Asw.
dear pembaca,
Baru sebulan ini bekerja di jakarta setelah meninggalkan kota pahlawan tercinta. langsung terasa 'perih'nya menjalani kehidupan di Jakarta.
Anda tahu?! sebenarnya saya telah tinggal sangat lama di jakarta, mafhum saya telah bercokol di sekitar jakarta sejak lahir sampai SMA. Namun saya baru merasakan jalanan jahanam jakarta akhir-akhir ini!
Betapa tidak, para pengendara motor yang tidak pernah mematuhi adanya lampu merah, para pengendara metro mini dan mikrolet yang ugal-ugalan, pengguna mobil yang tidak pernah mau mengalah!
semua itu adalah sebagian kecil ulah warga jakarta para pengguna jalan raya, dapat saya katakan mereka semua : TIDAK PUNYA NURANI!
Muram durja dan sangat egois, ketika mencoba untuk menghentikan motor saya di depan lampu merah yang saya sadari sayalah satu-satunya pengendara motor yang berhenti kala itu (!) sedangkan yang lainnya malah merangsek melaju tanpa salah disertai suara klakson dari mobil dan motor yang berjalan berlawanan.
GILA GILA GILA!!! kemanakah hati nuranimu warga jakarta, wahai warga ibukota yang terhormat nomor satu dan pusat ini?????!!!!
satu lagi polisi di Jakarta benar-benar tidak efektif dalam mengatur lalu lintas, saya baru menyadari dampak polisi lalu lintas di Surabaya yang dengan perhitungan membuat jalanan di Surabaya agak sedikit berputar-putar, kampanye tanpa malu yang dilakukan tiap hari (mereka membawa papan atau menjadi manusia 'sandwich' yang bertuliskan misal 'Roda 2 ke kiri' nyalakan lampu dll) dan lampu merah yang lebih terawat baik dan selalu menyala!
Semua itu tidak dapat saya temukan di Jakarta yang terkenal karena 'paling metropolis' ini!!!
Mari pembaca sekalian kembalikan hati nurani anda di jalanan!taatilah rambu-rambu lalu lintas!semua demi keselamatan dan kenyamanan berasma...
wallahu alam bishawab
Salam
Mesa
Wednesday, November 11, 2009
Tuesday, September 1, 2009
Pembodohan itu pecahan Rp 2.000
Pembodohan itu pecahan Rp 2.000
Belum lama ini Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan baru dengan nominal Rp 2.000,-. Uang dengan warna abu-abu dan terdapat gambar Pangeran Antasari itu rencananya akan menjadi pecahan uang kertas terkecil menggantikan Rp 1.000,- yang akan dikoinisasi.
Saya kutip dari sebuah web :
“Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadi pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka”
Lanjut…
“Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun 1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal menunggu waktu saja”
“Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game! Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya”
Inilah yang saya takutkan dan ternyata dapat dijelaskan dengan bahasa ekonom yang baik oleh anonimus* tersebut. Kita secara perlahan melupakan transaksi dengan uang-uang kecil dan menggantinya uang yang lebih besar dalam keseharian.
Ada sebagian orang yang berujar bahwa dengan pecahan 2.000 akan memepermudah transaksi bagi masyarakat. Langsung saja saya berujar dalam hati “eits bung masyarakat mana yang anda maksud….”, masyarakat yang selalu hidup dengan air conditioner? Masyarakat yang minumnya kopi 50ribuan?....
Mungkin pendapat tersebut terbesit oleh segelintir orang yang tinggal di Jakarta yang mana kehidupan ekonominya sangat tinggi, dimana dia bilang dengan uang 2000 dia dapat membeli kopi, es teh, de el el. Namun dengan uang 2.000 di Surabaya saja kita bisa dapat empat gelas kecil es teh atau dua gelas jumbo es the, bahkan segelas jus pun dapat dinikmati dengan uang segitu….
Semoga pak Bajori di dusun kalipait atau saudara kita Thomas di Wamena mendapatkan keadilan dengan adanya uang Rp 2.000….
Wallahualam bishowab
Pustaka :
http://wakalanusantara.com/detilurl/Apa.Arti.Peredaran.Uang.Rp.2000?./123
Belum lama ini Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan baru dengan nominal Rp 2.000,-. Uang dengan warna abu-abu dan terdapat gambar Pangeran Antasari itu rencananya akan menjadi pecahan uang kertas terkecil menggantikan Rp 1.000,- yang akan dikoinisasi.
Saya kutip dari sebuah web :
“Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadi pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka”
Lanjut…
“Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun 1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal menunggu waktu saja”
“Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game! Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya”
Inilah yang saya takutkan dan ternyata dapat dijelaskan dengan bahasa ekonom yang baik oleh anonimus* tersebut. Kita secara perlahan melupakan transaksi dengan uang-uang kecil dan menggantinya uang yang lebih besar dalam keseharian.
Ada sebagian orang yang berujar bahwa dengan pecahan 2.000 akan memepermudah transaksi bagi masyarakat. Langsung saja saya berujar dalam hati “eits bung masyarakat mana yang anda maksud….”, masyarakat yang selalu hidup dengan air conditioner? Masyarakat yang minumnya kopi 50ribuan?....
Mungkin pendapat tersebut terbesit oleh segelintir orang yang tinggal di Jakarta yang mana kehidupan ekonominya sangat tinggi, dimana dia bilang dengan uang 2000 dia dapat membeli kopi, es teh, de el el. Namun dengan uang 2.000 di Surabaya saja kita bisa dapat empat gelas kecil es teh atau dua gelas jumbo es the, bahkan segelas jus pun dapat dinikmati dengan uang segitu….
Semoga pak Bajori di dusun kalipait atau saudara kita Thomas di Wamena mendapatkan keadilan dengan adanya uang Rp 2.000….
Wallahualam bishowab
Pustaka :
http://wakalanusantara.com/detilurl/Apa.Arti.Peredaran.Uang.Rp.2000?./123
Friday, August 14, 2009
Kenapa densus 88 'membunuh' sang teroris?
Assalamualikum,
Seminggu yang lalu kita dikejutkan dengan adanya penggrebekan polisi khusus "densus 'anti teror' 88" atas dua rumah di Jatiasih, Bekasi dan di Temanggung, Jawa tengah. Pertama mendengar hal ini diberitakan bahwa Noordin M. Top dan kawan-kawan dikabarkan dikepung oleh polisi dan tewas dalam baku tembak dengan polisi. Lambat laun berita tewasnya Noordin akhirnya menjadi tidak valid, dikarenakan tes DNA membuktikan bahwa yang tewas ditembak polisi bukan Noordin (dalam kali lain saya akan menuliskan posting tentang tes DNA-kebetulan saya pernah ikut workshopnya).
Sebetulnya dalam blog ini bukannya saya ingin membahas perihal pengepungan tim densus 88 tersebut, yang menjadi perhatian saya adalah kenapa para personel yang menggrebek dan mengepung rumah tersebut 'membunuh' bukannya 'melumpuhkan' dan atau 'menangkap' para teroris....(hal ini terjadi pula dalam pengepungan Dr. azhari di Batu, Jawa Timur'
Rasionya (dalam benak saya) setelah terkapar ditembak di kaki (misalnya) para teroris tidak bisa lari kemudian bisa ditangkap dan akhirnya nanti bisa dimintai keterangan seputar keberadaan jaringan dan lain sebagainya... lha ternyata detasemen khusus yang dikabarkan membawa lengkap 200 personel plus 20 penembak jitu (sniper) plus robot canggih dari ITS itu malah menewaskan para teroris tersebut. Memangnya dalam manual densus 'didikan Amerika Serikat' tersebut tidak ada kata lumpuhkan dan tangkap ya?!
Alasannya karena mereka balik menyerang, lantas '200+20 orang' tadi apa tidak cukup untuk melumpuhkan '2 orang'?, karena mereka berbahaya memakai rompi bom, lantas buat apa mereka pakai teknologi tinggi (termasuk robot) dan persenjataan modern lainnya jika tidak dapat men-disrupt bom dan menangkap orangnya.
Bukannya naif dan menjelekkan polisi antiteror kita (jujur saya malah bangga polisi kita menjadi lebih maju), namun kembali lagi kenapa harus membunuh?, saya menaruh dugaan bahwa apakah ada sesuatu yang ditutupi, Naudzubillahimindzalik...
Investigasi terus berlanjut...
wallahualam bishawab
Salam dari surabaya,
Mesa
nb: mohon komennya dan benarkan jika saya salah
Seminggu yang lalu kita dikejutkan dengan adanya penggrebekan polisi khusus "densus 'anti teror' 88" atas dua rumah di Jatiasih, Bekasi dan di Temanggung, Jawa tengah. Pertama mendengar hal ini diberitakan bahwa Noordin M. Top dan kawan-kawan dikabarkan dikepung oleh polisi dan tewas dalam baku tembak dengan polisi. Lambat laun berita tewasnya Noordin akhirnya menjadi tidak valid, dikarenakan tes DNA membuktikan bahwa yang tewas ditembak polisi bukan Noordin (dalam kali lain saya akan menuliskan posting tentang tes DNA-kebetulan saya pernah ikut workshopnya).
Sebetulnya dalam blog ini bukannya saya ingin membahas perihal pengepungan tim densus 88 tersebut, yang menjadi perhatian saya adalah kenapa para personel yang menggrebek dan mengepung rumah tersebut 'membunuh' bukannya 'melumpuhkan' dan atau 'menangkap' para teroris....(hal ini terjadi pula dalam pengepungan Dr. azhari di Batu, Jawa Timur'
Rasionya (dalam benak saya) setelah terkapar ditembak di kaki (misalnya) para teroris tidak bisa lari kemudian bisa ditangkap dan akhirnya nanti bisa dimintai keterangan seputar keberadaan jaringan dan lain sebagainya... lha ternyata detasemen khusus yang dikabarkan membawa lengkap 200 personel plus 20 penembak jitu (sniper) plus robot canggih dari ITS itu malah menewaskan para teroris tersebut. Memangnya dalam manual densus 'didikan Amerika Serikat' tersebut tidak ada kata lumpuhkan dan tangkap ya?!
Alasannya karena mereka balik menyerang, lantas '200+20 orang' tadi apa tidak cukup untuk melumpuhkan '2 orang'?, karena mereka berbahaya memakai rompi bom, lantas buat apa mereka pakai teknologi tinggi (termasuk robot) dan persenjataan modern lainnya jika tidak dapat men-disrupt bom dan menangkap orangnya.
Bukannya naif dan menjelekkan polisi antiteror kita (jujur saya malah bangga polisi kita menjadi lebih maju), namun kembali lagi kenapa harus membunuh?, saya menaruh dugaan bahwa apakah ada sesuatu yang ditutupi, Naudzubillahimindzalik...
Investigasi terus berlanjut...
wallahualam bishawab
Salam dari surabaya,
Mesa
nb: mohon komennya dan benarkan jika saya salah
Sekilas Opini Mesa
Asalamualaikum,
Yo akhirnya memberanikan diri nerbitkan satu blog lagi, walau yang satunya pun tidak terlalu terurus tapi whatever lah.
Dasarnya adalah sewaktu naik motor atau di kendaraan (bis,kereta,dll) atai di tempat manapun selalu saja saya berpikir, menganalisis dan menyimpulkan beberapa kejadian dan fenomena yang ada baik itu kehidupan sehari-hari masyarakat, isu nasional sampai isu internasional. Saya kadang merasa tergugah, kecewa, tersadarkan, dan luapan perasaan lainnya ketika dalam proses berpikir tersebut dan mungkin ada baiknya jika pemikiran saya ini dituangkan ke dalam blog ini.
yah siapa tau bisa jadi ruangan diskusi untuk kita semua.
feel free and relax in this room, serta jangan lupa post komen dan dapat saja menghubungi saya langsung via email...
ok, enjoy this blog.
Salam dari Surabaya...
Mesa
Yo akhirnya memberanikan diri nerbitkan satu blog lagi, walau yang satunya pun tidak terlalu terurus tapi whatever lah.
Dasarnya adalah sewaktu naik motor atau di kendaraan (bis,kereta,dll) atai di tempat manapun selalu saja saya berpikir, menganalisis dan menyimpulkan beberapa kejadian dan fenomena yang ada baik itu kehidupan sehari-hari masyarakat, isu nasional sampai isu internasional. Saya kadang merasa tergugah, kecewa, tersadarkan, dan luapan perasaan lainnya ketika dalam proses berpikir tersebut dan mungkin ada baiknya jika pemikiran saya ini dituangkan ke dalam blog ini.
yah siapa tau bisa jadi ruangan diskusi untuk kita semua.
feel free and relax in this room, serta jangan lupa post komen dan dapat saja menghubungi saya langsung via email...
ok, enjoy this blog.
Salam dari Surabaya...
Mesa
Subscribe to:
Posts (Atom)
