Pembodohan itu pecahan Rp 2.000
Belum lama ini Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan baru dengan nominal Rp 2.000,-. Uang dengan warna abu-abu dan terdapat gambar Pangeran Antasari itu rencananya akan menjadi pecahan uang kertas terkecil menggantikan Rp 1.000,- yang akan dikoinisasi.
Saya kutip dari sebuah web :
“Dengan ditariknya pecahan Rp 1.000,- maka otomatis uang receh terkecil adalah Rp 500,-. Sedangkan koin pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- akan lenyap dengan sendirinya, rusak atau dicuekin. Hal ini lazim terjadi pasca terbitnya uang baru, ketika pecahan Rp 1,- dan Rp 2,- lenyap pada tahun 1975, sepuluh tahun kemudian Rp 5,- dan Rp 10,- lenyap di tahun 1985, lalu Rp 25,- dan Rp 50,- lenyap di tahun 1995. Kini pada 2009 ini pecahan Rp 100,- dan Rp 200,- sudah kehilangan daya belinya. Rakyat dieksploitasi untuk memacu kegiatan ekonominya, dan dipaksa merelakan hilangnya sebagian jerih payah mereka”
Lanjut…
“Perhatikan akibatnya. Bila tadinya sebutir telur ayam negeri seharga Rp 10,-/butir di tahun 1975, lalu naik menjadi Rp 100,-/butir di tahun 1985, maka pemegang uang rupiah telah kehilangan asetnya 1 digit dari Rp 10,- ke Rp 100,-. Artinya si pemegang uang kertas harus mencari sepuluh kali lipat lebih banyak lagi lembaran rupiah agar bisa membeli telur yang sama. Bisa jadi suatu hari nanti harga sebutir telur ayam negeri harus dibayar dengan lembaran Rp 10.000,-/butir, tinggal menunggu waktu saja”
“Untuk mengakali inflasi ini, Bank Indonesia cukup menambah angka nol pada uang kertas baru. Inilah riba Zero Sum Game! Sampai kapan permainan riba ini akan berakhir? Rakyat yang kalah gesit dalam mengimbangi permainan ini pasti semakin terpuruk kondisinya”
Inilah yang saya takutkan dan ternyata dapat dijelaskan dengan bahasa ekonom yang baik oleh anonimus* tersebut. Kita secara perlahan melupakan transaksi dengan uang-uang kecil dan menggantinya uang yang lebih besar dalam keseharian.
Ada sebagian orang yang berujar bahwa dengan pecahan 2.000 akan memepermudah transaksi bagi masyarakat. Langsung saja saya berujar dalam hati “eits bung masyarakat mana yang anda maksud….”, masyarakat yang selalu hidup dengan air conditioner? Masyarakat yang minumnya kopi 50ribuan?....
Mungkin pendapat tersebut terbesit oleh segelintir orang yang tinggal di Jakarta yang mana kehidupan ekonominya sangat tinggi, dimana dia bilang dengan uang 2000 dia dapat membeli kopi, es teh, de el el. Namun dengan uang 2.000 di Surabaya saja kita bisa dapat empat gelas kecil es teh atau dua gelas jumbo es the, bahkan segelas jus pun dapat dinikmati dengan uang segitu….
Semoga pak Bajori di dusun kalipait atau saudara kita Thomas di Wamena mendapatkan keadilan dengan adanya uang Rp 2.000….
Wallahualam bishowab
Pustaka :
http://wakalanusantara.com/detilurl/Apa.Arti.Peredaran.Uang.Rp.2000?./123
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment